MALAM 1 SURO

 

 malam 1 suro penanggalan jawa tahun ini jatuh di tanggal 4 november 2013

Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun.

Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa).

Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah.

Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.

Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.

Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.

Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.

Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.

Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.

 

SEMOGA SELALU DAPAT RAHMAH DAN BERKAH dengan segala ijin ALLAH semua hanya lantaran sepenuhnya serah dan pasrah hanya padanya . tiada daya dan upaya atas kehendakNYA bersifat pendamping PERJALANAN HIDUP anda agar terarah maksud dari tuah maksimalkan usaha anda pasti akan tercapai untuk segala tujuan tuah ini serta dengan bersungguh merawat , menjaga pusaka ini aura pusaka pasti akan turut setia mendampingi segala laku anda pusaka kental dengan aura ritual dan Diperkuat asmak hanya yang bersungguh sungguh

 

INFORMASI CONTACK SILAHKAN HUBUNGI ABAH HASAN

NO TELPON: +6285 647 393 133

PIN BB : 27EFEF5F

EMAIL : gudangbertuah@gmail.com

 

SILAHKAN MAMPIR DAN LIHAT PUSAKA BERTUAH

KU HORMATI SEGALA MAKHLUK CIPTAAN SANG MAHA PENCIPTA , SEGALA LAKU KARYAKU UJUD NYATA IBADAH SUCI PERSEMBAHKAN PADAMU YA ALLAH KAMI MENYEDIAKAN MUSTIKA, MERAH DELIMA, RB, BK, MACAM MACAM MAHAR MUSTIKA, JENIS JENIS MUSTIKA,YONI TUAH MUSTIKA AMPUH,BENDA BERTUAH, TASBIH KAROMAH,MINYAK, SUSUK,PELET, MANTRA MANTRA GRATIS, KERIS, TOMBAK, PEDANG, TRISULA, BENDA GHOIB, BAMBU, AJIAN, ILMU HIKMAH AMPUH, KHODAM, ASIHAN, SANTET, TENUNG, GUNA GUNA, BATU MULIA, FOSIL, ANTIK KUNO, KOIN, SPIRITUAL, MACAM MACAM BENDA BENDA BERTUAH LAINYA

http://caswaterpark.com/mengenal-tradisi-malam-satu-suro-ditanah-jawa-ragam-budaya-indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s